Hakekat
Pengelolaan Kelas Dan Problem-Problem Dalam Pengelolaan Kelas
A.
Hakekat
Pengelolaan Kelas
Pengelolaan
kelas terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas.
Pengelolaan itu sendiri asal katanya adalah ”kelola”, ditambah awalan “pe” dan
akhiran “an”. Istilah lain dari kata pengelolaan adalah “manajemen”. Manajemen
adalah kata yang aslinya dari bahasa Inggris, yaitu “management”, yang berarti
ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan.[1]
Pengertian pengelolaan atau manajemen pada
umumnya yaitu kegiatan-kegiatan meliputi perencanaa, pengorganisasian,
pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan, dan penilaian.[2]
Sedangkan definisi
kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang
mendapat pelembelajaran dari pembelajar (Hamalik, 2007). Sementara Ahmad (1995)
mengatakan kelas ialah ruangan belajar atau rombongan belajar.[3]
Jadi secara
etimologi, pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai upaya merencanakan,
mengorganisir, mengarahkan, mengkoordinasi dan mengontril kelompok belajar yang
dilakukan oleh pembelajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Sedangkan secara
terminology seperti yang diungkapkan oleh Wilford (James M. Cooper, 1995) yang
mengemukakan bahwa pengelolaan kelas merupakan seperangkat perilaku yang
kompleks dimana pembelajaran menggunakan untuk menata dan memelihara kondisi
kelas yang akan memampukan para pembelajar untuk mencapai tujuan pembelajaran
secara efisien.[4]
Sedangkan Woolfolk
(2004) memberikan definisi pengelolaan kelas adalah untuk memelihara lingkungan
pembelajaran yang positif, dan produktif.
Ahmad (1995)
menyatakan pengelolaan kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk
mewujudkan suasana belajar mengjar yang efektif dan menyenagkan serta dapat
memotivasi pebelajar untuk belajar dengan baik sesuai kemampuan.
Sedangkan menurut
Pidarta (2000) pengelolaan kelas adalah proses seleksi dan penggunaan alat-alat
yang tepat terhadap problem dan situasi kelas.
Sudirman (dalam
Djamarah 2006) pengelolaan kelas merupakan upaya dalam mendayagunakan potensi
kelas.[5]
Berdasarkan
definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas (classroom
management) adalah serangkaian tindakan yang dilakukan pembelajar dalam
upaya menciptakan kondisi lingkungan pembelajaran yang positif dan produktif
agar proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan tujuannya. Dengan
ungkapan lain, pengelolaan kelas adalah upaya memberdayakan potensi kelas
melalui seperangkat kertrampilan pembelajar untuk menciptakan iklim
pembelajaran yang kondusif, positif, dan produktif dan mengendalikannya jika
terjadi gangguan dalam pembelajaran untuk mengoptimalisasi proses pembelajaran
sehingga dapat diperoleh hasil yang memuaskan.
Bertolak dari
definisi tersebut, pada hakekatnya pengelolaan kelas dilakukan untuk mendukung
terjadimya proses pembelajaran yang lebih berkualitas. Berikut ini beberapa
hakekat pengelolaan kelas :
1.
Pengelolaan
kelas adalah serangkaian tindakan pembelajar yang ditunjukkan untuk mendorong
munculnya tingkah laku yang diharapkan dan menghilangkan tingkah laku yang baik
dan iklim sosio-emosional yang positif, serta menciptakan dan memelihara
organisasi kelas yang produktif dan efektif.
2.
Tujuan
pengelolaan kelas adalah menciptkan dan memelihara kondisis yang memungkinkan
berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif. Tujuan pembelajaran adalah
membantu pebelajar mencapai tujuan pembelajaran,
3.
Pengelolaan
kelas merupakan aspek penting dalam proses pembelajaran. Pengelolaan kelas yang
efektif merupakan prasyarat bagi terciptanya proses pembelajaran yang efektif.[6]
B.
Tujuan
Pengelolaan kelas
Tujuan
pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan.
Secara umum pengelolaan kelas adalah penyedian fasilitas bagi bermacam macam
kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dalam intelektual
dalam kelas. Fasilitas yang demikian itu memungkinkan siwa belajar dan bekerja,
terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin,
perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa.
(Sudirman N, 1991, 311) Suharsimi
Arikunto (1988 : 68) berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar
setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga tercapai tujuan
pengajaran secara efektif dan efisien.[7]
Berbicara
mengenai tujuan pengelolaan kelas, Ahmad (1995) bahwa mengatakan tujuan
pengelolaan kelas adalah sebagai berikut :
1.
Mewujutkan
situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai
kelompok belajar yang memungkinkan pebelajar untuk mengembangkan kemampuan
semaksimal mungkin.
2.
Menghilanhkan
berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar
mengajar.
3.
Menyediakan
dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan
pebelajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual pebelajar
dalam kelas.
4.
Membina
dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta
sufat-sifat individunya.[8]
C.
Problem
– problem dalam pengelolaan kelas
Pengelolaan kelas adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan
terselenggaranya kegiatan belajar dengan baik. Dalam pengelolaan kelas dapat
terjadi masalah bersumber dari kondisi tempat belajar dan pelajar yang terlibat
dalam belajar Kondisi tempat belajar misalnya bisa berupa ruang kotor, papan
tulis rusak, meja kursi rusak, dan sebagainya dapat mengganggu belajar.[9]
Keaneka
macam masalah perilaku siswa itu menimbulkan beberapa masalah pengelolaan
kelas. Menurut made pidarta masalah-masalah pengelolaan kelas yang berhubungan
dengan perilaku siswa adalah:
1. Kurang
kesatuan, dengan adanya kelompok-kelompok, klik-klik, dan pertentangan jenis
kelamin.
2. Tidak ada
standar perilaku dalam bekerja kelompok, misalnya ribut, bercakap-cakap, bergi
kesana-kemari, dan sebagainya
3. Reaksi
negatif terhadap anggota kelompok, misalnya ribut, bermusuhan, mengucilkan,
merendahkan kelompok bodoh dan sebagainya
4. Kelas
mentolerasi kekeliruan-kekeliruan temannya, ialah menerima dan mendorong
perilaku siswa yang keliru.
5. Mudah
mereaksi negatif atau terganggu misalnya didatangi monitor, tamu-tamu, iklim
yang berubah dan sebagainya
6. Moral
rendah, permusuhan dan agresif misalnya dalam lembaga dengan alat-alat belajar
kurang, kekurangan uang, dan sebagainya
7. Tidak
mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang berubah, seperti tugas-tugas
tambahan, anggota kelas yang baru, situasi baru dan sebagainya.[10]
[2] Imam Azhar, Pengelolaan
kelas dari teoritis ke praktis.(Yogyakarta : INSYIRA).2013,hal 15
[3] Ibid,
h.15
[4] Ibid, h.
16
[5]
Ibid,h.19
[6] Ibid, h.
20.
[7]
Syaiful
Bahri Djamarah, dkk, Strategi Belajar Mengajar I, Jakarta :Rineka Cipta,
2002, h. 199-200
[8] Imam Azhar, Pengelolaan kelas dari teoritis
ke praktis.(Yogyakarta : INSYIRA).2013,hal 15
[9] http://blog.tp.ac.id/tag/pengertian-masalah-sosial-dlm-sistem-pembelajaran-klasikal, diaksestgl: 25-05-2014
[10]
SyaifulBahriDjamarah,
dkk, Strategi Belajar Mengajar I, Jakarta : Rineka Cipta, 2002, h. 218