Prosedur Dan Teknik Pengelolaan Kelas
A.
Pengertian
Prosedur pengelolaan kelas
Prosedur ialah cara untuk
mengerjakan suatu pekerjaan menurut tingkat-tingkatnya. Prosedur merupakan
suatu susunan yang teratur dari kegiatan yang berhubungan satu sama lainnya dan
prosedur-prosedur yang berkaitan memudahkan kegiatan utama dari suatu
organisasi.[1]
Prosedur pengelolaan kelas merupakan serangkaian
langkah kegiatan pengelolaan kelas yang dilakukan agar tercipta kondisi kelas
yang optimal serta mempertahankan kondisi optimal tersebut supaya proses
pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Istilah prosedur itu
seendiri mengandung arti sebagai suatu cara atau kegiatan untuk menyelesaikan
pekerjaan dengan urutan waktu dan memiliki pola kerja yang tetap yang telah
dientukan. Sedangkan menurut Ismail Masya, yaitu suatu rangkaian tugas-tugas
yang saling berhubungan yang merupakan urutan-urutan menurut waktu dan tata
cara tertentu untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang dilaksanakan
berulang-ulang.[2]
Dalam pengelolaan kelas harus
dilaksanakan dengan prosedur tertentu, yang mana prosedur ini merupakan langkah
yang dilalui guru dalam kegiatan belajar mengajar, paling tidak akan
mengarahkan proses pengelolaan kelas yang lebih terarah dan teratur. Untuk itu
terdapat dua prosedur pengelola’an kelas, yaitu prosedur bersifat Preventif (pencegahan),
dan prosedur yang bersifat Kuratif (penyembuhan).[3]
1.
Prosedur Preventif (pencegahan)
Merupakan mencegah suatu tindakan
sebelum adanya penyimpangan khususnya didalam kelas agar tidak mengganggu
proses belajar mengajar.[4]
Prosedurnya antara lain:
a)
Peningkatan kesadaran diri sebagai
guru, sehingga guru dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki
yang merupakan modal dasar dalam melaksanakan tugasnya.
b)
Peningkatan kesadaran pada siswa,
sehingga siswa dapat meningkatkan kesadaran serta dapat menghindarkan diri
peserta didik dari sikap yang tidak terpuji, seperti sikap malas, sikap mudah
putus asa, mudah ,marah, mudah kecewa, mudah tertekan oleh peraturan sekolah
dan sebagainya. Selain itu, guru juga sebaiknya memperhatikan kebutuhan,
keinginan dan memberikan dorongan pada siswanya, menciptakan suasana saling
pengertian, saling menghormati dan rasa keterbukaan antara guru dan siswa.
c)
Sikap polos dan tulus dari guru,
sehingga guru dapat mempengaruhi lingkungan belajar siswa. Karena tingkah laku,
cara menyikapi dan tindakan guru merupakan stimulus yang akan direspon oleh
para siswa.
d)
Mengenal dan menemukan alternatif
pengelolaan. Sebaiknya guru dapat mengidentifikasi tingkah laku siswa yang
menyimpang baik bersifat individual maupun kelompok, atau bahkan penyimpangan
yang disengaja. Dan juga guru sebaiknya belajar dari berbagai pengalaman
guru-guru lainnya yang gagal ataupu yang
berhasil, untuk mencari alternatif yang bervariasi dalam menangani berbagai
persoalan pengelolaan kelas.
e)
Menciptakan kontrak sosial. Yaitu
sebuah daftar aturan atau kontrak, tata tertib beserta sanksinya yang mengatur
kehidupan di kelas yang mana harus disetujui oleh guru dan siswa.[5]
2.
Prosedur Kuratif (Penyembuhan)
a)
Mengidentifikasi masalah, gunanya
untuk mengenal dan mengetahui masalah-masalah pengelolaan kelas.
b)
Menganalisis masalah, guru
menganalisis penyimpangan siswqa dan menyimpulkanlatar belakang dan
sumber-sumber dari penyimpangan, selanjutnya menentukan alternatif
penanggulangannya.
c)
Menilai alternatif pemecahaan, guru
menilai alternatif pemecahan yang sesuai, kemudian memilih alternatif pemecahan
yang dianggap sudah tepat serta melaksanakannya.
Mendapatkan
balikan, guru melakukan kilas balik agar
alternatif pemecahan yang dipilih tadi sesuai target yang sudah
direncanakan.[6]
B. Teknik
Pengelolaan Kelas
Teknik-teknik pengelolaan kelas
dapat digolongkan ke dalam teknik preventif dan teknik kuratif. Teknik
preventif adalah teknik untuk mencegah timbulnya tingkah laku siswa yang
mengganggu kegiatan belajar-mengajar. Sedangkan teknik kuratif adalah teknik
untuk mengurangi tingkah laku siswa yang mengganggu kegiatan kegiatan belajar
mengajar.[7]
Adapun tehnik-tehniknya menurut Mulyasa (1990) sebagai
berikut:
1. Tehnik
mendekati. Bila seorang siswa mulai bertingkah, satu teknik yang
biasanya efektif yaitu teknik mendekatinya.
2. Teknik
memberikan isyarat. Apabila siswa berbuat penakalan kecil, guru dapat
memberikan isyarat bahwa ia sedang diawasi isyarat tersebut dapat berupa
petikan jari, pandangan tajam, atau lambaian tangan.
3. Teknik mengadakan humor. Jika
insiden itu kecil, setidaknya guru memandang efek saja, dengan melihatnya
secara humoristis, guru akan dapat mempertahankan suasana baik, serta
memberikan peringatan kepada si pelanggar bahwa ia tahu tentang apa yang akan
terjadi.
4. Teknik tidak
mengacuhkan. Untuk menerapkan cara ini guru harus lues dan tidak
perlu menghukum setiap pelanggaran yang diketahuinya. Dalam kasus-kasus
tertentu, tidak mengacuhkan kenakalan justru dapat membawa siswa untuk di
perhatikan.
5. Teknik
menghimbau. Kadang-kadang guru sering mengatakan, “harap tenang”. Ucapan
tersebut adakalanya membawa hasil; siswa memperhatikannya. Tetapi apabila
himbauan sering digunakan mereka cenderung untuk tidak menggubrisnya.[8]
[1] Majid,
Abdul. Perencanaan Pembelajaran (Cetakan Kedua)(Bandung: PT Remaja Rosda
Karya.2006), hal : 110
[2]
Azhar,Imam, pengelolaan kelas dari teori
ke praktis (Yogyakarta:INSYIRA.2013).hal :76
[3]
Suryosubroto. proses Belajar Mengajar di Sekolah. (Jakarta: Rineka
Cipta, 2002), hal. 134
[4]
Danim Sudarwan. Visi Baru
Manajemen Sekolah. (Jakarta: Bumi
Aksara, 2006), hal. 93
[5] Ibid
.hal 94
[6]Cece Wijaya. Kemampuan Dasar Guru dalam Proses
Belajar Mengajar. (Bandung: Rosda Karya, 1991), hal. 113
[7] J.J. Hasibuan dkk., Keterampilan Dasar Pengajaran Mikro, (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya), hlm. 179
[8]
Mulyasa. Menjadi Guru Profesional (Bandung: Rosda Karya, 1990), hal. 101
Tidak ada komentar:
Posting Komentar