Prinsip-Prinsip, Unsur,Dan
Alasan Pentingnya Pengelolaan Kelas
A.
Prinsip-
prinsip pengelolaan kelas
Secara umum faktor
yang mempengaruhi pengelolaan kelas dibagi menjadi dua golongan yaitu, faktor
intern dan faktor ekstern pebelajar. Faktor intern pebelajar berhubungan dengan
masalah emosi, pikiran dan perilaku.[1]
Faktor ekstern
pebelajar terkait dengan masalah suasana lingkungan belajar, penemuan
pebelajar, mengelompokkan pebelajar, jumlah pebelajar dan sebagainya. Masalah
jumlah pebelajar di kelas akan mewarnai dinamika kelas. Semakin banyak jumlah
pebelajar di kelas, misalnya dua puluh orang ke atas akan cenderung lebih mudah
terjadi konflik, sebaliknya semakin sedikit jumlah pebelajar di kelas cenderung
lebih kecil terjadi konflik.[2]
Yang dimaksud
dengan prinsip-prinsip pengelolaan kelas di sini adalah hal-hal yang dapat
dijadikan pedoman atau pegangan guru di dalam mengelola, agar menjadi terarah
dan efisien.[3]
Dalam rangka memperkecil masalah
gangguan dalam pengelolaan kelas, prinsip-prinsip pengelolaan kelas dapat
dipergunakan, yaitu :
1.
Hangat dan antusias
Hangat dan
antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar.guru yang hangat dan akrab
engan anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada
aktivitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas dan
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang direncanakan.
2.
Tantangan
Penggunaan
kata-kata, tindakan, cara kerja atau bahan-bahan yang menantang akan
meningkatkan gairah anak didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan
munculnya tingkah laku yang menyimpang.
3.
Bervariasi
Penggunaan
alat atau media atau alat bantu,gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru
dan anak didik mengurangi munculnya gangguan, kevariasian dalam penggunaan apa
yang dsi sebut diatas merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang
efektif.
4.
Keluesan
Keluesan
tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah
kemungkinan munculnya gangguan anak didik serta menciptakan iklim belajar
mengajar yang efektif.
5.
Penekanan pada hal-hal yang positif
Pada
dasarnya, dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang
positif, dan menghindari pemusatan perhatian anak didik pada hal-hal yang
negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang
positif, dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan Yang dapat mengganggu
jalannya proses belajar mengajar.
6.
Penanaman disiplin diri
Tujuan akhir
dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan disiplin diri
sendiri. Karena itu,guru sebaiknya selalu mendorong anak didik untuk
melaksanakan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan
mengenai pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus
disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya iku disiplin berdisiplin
dalam segala hal.[4]
Prinsip-prinsip
yang harus diperhatikan dalam mengatasi masalah untuk membuat iklim kelas yang
sehat dan efektif adalah sebagai berikut :
1)
Bila situasi kelas memungkinkan
anak-anak belajar secara maksimal, fungsi kelompok harus diminimalkan.
2)
Manajemen kelas harus memberi
fasilitas untuk mengembangkan kesatuan dan bekerjasama.
3)
Anggota-anggota kelompok harus
diberi kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang memberi efek
kepada hubungan dan kondisi belajar atau kerja.
4)
Anggota-anggota kelompok harus
dibimbing dalam menyelesaikan kebimbingan, ketegangan dan perasaan tertekan.
5)
Perlu diciptakan persahabatan dan
kepercayaan yang kuat antar siswa.[5]
Thomas
Gardon (1990 : 29) mengatakan bahwa hubungan guru dan siswa dikatakan baik
apabila hubungan itu memiliki sifat-sifat atau prinsip-pinsip sebagai berikut :
a)
Keterbukaan, sehingga baik guru
maupun siswa saling bersikap jujur dan membuka diri satu sama lain.
b)
Tanggap bilamana seseorang tahu
bahwa dia dinilai oleh orang lain.
c)
Saling ketergantungan antara satu
dengan yang lain.
d)
Kebebasan, yang memperbolehkan
setiap orang tumbuh dan berkembang mengembangkan keunikannya, kreatifitasnya
dan kepribadiannya.
e)
Saling memenuhi kebutuhan, sehingga
tidak ada kebutuhan satu orang pun yang tidak terpenuhi.[6]
B.
Unsur- unsur dalam pengelolaan kelas
Pada
prinsipnya pendekatan atau teoriapapun yang dipilih dan yang dijadikan dasra
dalam pengelolaan kelas, harus diorientasikan pada terciptanya proses
pembelajaran secara aktif dan produktif. Untuk mendukung proses proses
pembelajaran tersebut, mka unsur-unsur pengelolaan berikut ini yang harus
diperhatikan, yaitu :[7]
1.
Prevensif,
yaitu upaya yang dilakukan oleh pembelajar untuk mencegah
terjadinya gangguan dalam pembelajaran. Mencegah lebih baik dari pada
mengobati.
2.
Perhatian
yaitu selalu mencurahkan perhatian pada berbagai aktivitas,
lingkungan maupun segala sesuatu yang muncul. Perhatian merupakan salah satu
bentuk kertrampilan dan kebiasaan yang harus dimiliki oleh pembelajar.
3.
Refrensif, kertrampilan refrensif tidak diartikan sebagai tindakan kekerasan
seperti halnya penanganan dalam gangguan keamanan. Kertrampilan refrensif
sebagai salah satu unsur dari ketrampilan pengelolaan kelas hal itu bisa berupa
modifikasi tingkah laku, pengelolaan kelompok, dan diangnosis.
4.
Modifikasi
tingkah laku yaitu bahwa
setiap tingkah laku dapat diamati, oleh karena itu bagaimana dengan tingkah
laku yang mumcul dengan positif, pembelajar memberi respon positif agar
kebiasaan baik itu lebih kuat dan dapat dipelihara.
5.
Penelolaan
kelompok, untuk menangani permasalahan
hendaknya dilakukan secara kolaborasi dan mengikitsertakan beberapa komponen
atau unsur yang terkait.
6.
Diagnosis
yaitu suatu ketrampilan untuk mencari unsur-unsur yang akan menjadi
penyebab gangguan maupun unsur-unsur yang terkait.[8]
C.
Alasan
Mengapa Pengelolaan Kelas iti Penting
Pembelajaran
memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran dikelas.
Pembelajar sangat berperan dalam membantu perkembangan potensi pembelajar untuk
mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Di dalam kelqas, pembelajar
melaksanakan dua kegiatan pokok yaitu kegiatan pembelajarkan dan kegiatan
pengelola kelas.
Mengajar adalah
aktivitas yang mulia karena ia memberikan kemanfaatan kepada orang lain sedang
dirinya sendiri mendapatkan keanfaatan yaitu bertambah ilmunya sekaligus ia
menjadi sosok yang mulia ( Pidarta 2001). Mengajar ibarat tukang bersih sungai
yang mengentas sampah, mengeruk lumpur dan pasirnya, dan memindahkan batu,
kayu, kain yang menghalangi laju air mengalir (Degeng 2000).
Dengan ungkapan
lain, aktivitas mengajar adalah memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan
kondisi internal dan eskternal si belajar, mencari dan membuat
preskripsi-preskripsi baru yang sesuai dengan diri pebelajar dan materi bahan
ajar, (Reigeluth 2009).
D.
Alasan Kenapa Pengelolaan Kelas Perlu Dilakukan
Adapun beberapa
alasan kenapa pengelolaan kelas perlu di lakukan oleh pembelajar adalah
mencakup penggunaan waktu pembelajaran, kebutuhan akses belajar, dan kemampuan
mengelola atau memenej diri (Woolflok, 2004).
1.
Waktu
pembelajaran (more time for learning)
Bahwa para pembelajar dituntut pandai dalam mengelolah waktu
pembelajaran mulai dari kegiatan dalam mengelola waktu , agar waktu yang
dimiliki untuk pembelajarkan pebelajar tidak banyak yang terbuang sia-sia.
2.
Kebutuhan
akses belajar (accese to learning)
Setiap kegiatan pembelajaran memiliki aturan main tersendiri yang
harus diikuti oleh para pebelajar dan pembelajar. Jadi fungsi pembelajar adalah
memastikan bahwa para pebelajar telah memahami bagaimana cara berpartisipasi
selama proses pembelajaran agar memiliki akses belajar yang optimal.
3.
Kemampuan
mengelola untuk mengelola diri (management for self-management)
Alasan
ketiga diperlukan pengelolaan kelas adalah pentingnya kemampuan manajemen diri
pebelajar. Membelajarkan si pebelajar untuk mampu melakukan pengelolaan diri
memang membutuhkan waktu lebih lama, namun dengan upaya demikian merupakan
sebuah investasi yang luar biasa besar dan bermanfaat bagi si pebelajar sendiri
untuk saat ini dan tentunya untuk masa depannya.
[1] Imam
Azhar,Pengelolaan kelas dari teoritis ke praktis, Yogyakarta :
INSYIRA,2013.h.27
[2] Ibid
h.27
[3]
Syaiful Bahri Djamarah, dkk, Strategi
Belajar Mengajar I, Jakarta :Rineka Cipta, 2002, h. 208
[4]
Ibid,h.206
[6]
Ibid,h.240
[7] Imam
Azhar,Pengelolaan kelas dari teoritis ke praktis, Yogyakarta :
INSYIRA,2013.h.21
[8]
Ibid,h.21-22