Sabtu, 31 Mei 2014

portopolio pengelolaan kelas


Prinsip-Prinsip, Unsur,Dan Alasan Pentingnya Pengelolaan Kelas
A.    Prinsip- prinsip pengelolaan kelas
            Secara umum faktor yang mempengaruhi pengelolaan kelas dibagi menjadi dua golongan yaitu, faktor intern dan faktor ekstern pebelajar. Faktor intern pebelajar berhubungan dengan masalah emosi, pikiran dan perilaku.[1]
            Faktor ekstern pebelajar terkait dengan masalah suasana lingkungan belajar, penemuan pebelajar, mengelompokkan pebelajar, jumlah pebelajar dan sebagainya. Masalah jumlah pebelajar di kelas akan mewarnai dinamika kelas. Semakin banyak jumlah pebelajar di kelas, misalnya dua puluh orang ke atas akan cenderung lebih mudah terjadi konflik, sebaliknya semakin sedikit jumlah pebelajar di kelas cenderung lebih kecil terjadi konflik.[2]
            Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip pengelolaan kelas di sini adalah hal-hal yang dapat dijadikan pedoman atau pegangan guru di dalam mengelola, agar menjadi terarah dan efisien.[3]
            Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas, prinsip-prinsip pengelolaan kelas dapat dipergunakan, yaitu :
1.      Hangat dan antusias
      Hangat dan antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar.guru yang hangat dan akrab engan anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktivitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas dan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang direncanakan.
2.      Tantangan
      Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah anak didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
3.       Bervariasi
      Penggunaan alat atau media atau alat bantu,gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik mengurangi munculnya gangguan, kevariasian dalam penggunaan apa yang dsi sebut diatas merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif.
4.      Keluesan
      Keluesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan anak didik serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif.
5.      Penekanan pada hal-hal yang positif
      Pada dasarnya, dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif, dan menghindari pemusatan perhatian anak didik pada hal-hal yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif, dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan Yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
6.      Penanaman disiplin diri
      Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan disiplin diri sendiri. Karena itu,guru sebaiknya selalu mendorong anak didik untuk melaksanakan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya iku disiplin berdisiplin dalam segala hal.[4]
Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam mengatasi masalah untuk membuat iklim kelas yang sehat dan efektif adalah sebagai berikut :
1)        Bila situasi kelas memungkinkan anak-anak belajar secara maksimal, fungsi kelompok harus diminimalkan.
2)        Manajemen kelas harus memberi fasilitas untuk mengembangkan kesatuan dan bekerjasama.
3)        Anggota-anggota kelompok harus diberi kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang memberi efek kepada hubungan dan kondisi belajar atau kerja.
4)        Anggota-anggota kelompok harus dibimbing dalam menyelesaikan kebimbingan, ketegangan dan perasaan tertekan.
5)        Perlu diciptakan persahabatan dan kepercayaan yang kuat antar siswa.[5]
Thomas Gardon (1990 : 29) mengatakan bahwa hubungan guru dan siswa dikatakan baik apabila hubungan itu memiliki sifat-sifat atau prinsip-pinsip sebagai berikut :
a)        Keterbukaan, sehingga baik guru maupun siswa saling bersikap jujur dan membuka diri satu sama lain.
b)        Tanggap bilamana seseorang tahu bahwa dia dinilai oleh orang lain.
c)        Saling ketergantungan antara satu dengan yang lain.
d)       Kebebasan, yang memperbolehkan setiap orang tumbuh dan berkembang mengembangkan keunikannya, kreatifitasnya dan kepribadiannya.
e)        Saling memenuhi kebutuhan, sehingga tidak ada kebutuhan satu orang pun yang tidak terpenuhi.[6]
B.     Unsur- unsur dalam pengelolaan kelas
            Pada prinsipnya pendekatan atau teoriapapun yang dipilih dan yang dijadikan dasra dalam pengelolaan kelas, harus diorientasikan pada terciptanya proses pembelajaran secara aktif dan produktif. Untuk mendukung proses proses pembelajaran tersebut, mka unsur-unsur pengelolaan berikut ini yang harus diperhatikan, yaitu :[7]
1.      Prevensif, yaitu upaya yang dilakukan oleh pembelajar untuk mencegah terjadinya gangguan dalam pembelajaran. Mencegah lebih baik dari pada mengobati.
2.      Perhatian yaitu selalu mencurahkan perhatian pada berbagai aktivitas, lingkungan maupun segala sesuatu yang muncul. Perhatian merupakan salah satu bentuk kertrampilan dan kebiasaan yang harus dimiliki oleh pembelajar.
3.      Refrensif, kertrampilan refrensif tidak diartikan sebagai tindakan kekerasan seperti halnya penanganan dalam gangguan keamanan. Kertrampilan refrensif sebagai salah satu unsur dari ketrampilan pengelolaan kelas hal itu bisa berupa modifikasi tingkah laku, pengelolaan kelompok, dan diangnosis.
4.      Modifikasi tingkah laku yaitu bahwa setiap tingkah laku dapat diamati, oleh karena itu bagaimana dengan tingkah laku yang mumcul dengan positif, pembelajar memberi respon positif agar kebiasaan baik itu lebih kuat dan dapat dipelihara.
5.      Penelolaan kelompok, untuk menangani permasalahan hendaknya dilakukan secara kolaborasi dan mengikitsertakan beberapa komponen atau unsur yang terkait.
6.      Diagnosis yaitu suatu ketrampilan untuk mencari unsur-unsur yang akan menjadi penyebab gangguan maupun unsur-unsur yang terkait.[8]
C.     Alasan  Mengapa Pengelolaan Kelas iti Penting
            Pembelajaran memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran dikelas. Pembelajar sangat berperan dalam membantu perkembangan potensi pembelajar untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Di dalam kelqas, pembelajar melaksanakan dua kegiatan pokok yaitu kegiatan pembelajarkan dan kegiatan pengelola kelas.
            Mengajar adalah aktivitas yang mulia karena ia memberikan kemanfaatan kepada orang lain sedang dirinya sendiri mendapatkan keanfaatan yaitu bertambah ilmunya sekaligus ia menjadi sosok yang mulia ( Pidarta 2001). Mengajar ibarat tukang bersih sungai yang mengentas sampah, mengeruk lumpur dan pasirnya, dan memindahkan batu, kayu, kain yang menghalangi laju air mengalir (Degeng 2000).
            Dengan ungkapan lain, aktivitas mengajar adalah memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi internal dan eskternal si belajar, mencari dan membuat preskripsi-preskripsi baru yang sesuai dengan diri pebelajar dan materi bahan ajar, (Reigeluth 2009).
D.    Alasan Kenapa Pengelolaan Kelas Perlu Dilakukan
Adapun beberapa alasan kenapa pengelolaan kelas perlu di lakukan oleh pembelajar adalah mencakup penggunaan waktu pembelajaran, kebutuhan akses belajar, dan kemampuan mengelola atau memenej diri (Woolflok, 2004).
1.      Waktu pembelajaran (more time for learning)
Bahwa para pembelajar dituntut pandai dalam mengelolah waktu pembelajaran mulai dari kegiatan dalam mengelola waktu , agar waktu yang dimiliki untuk pembelajarkan pebelajar tidak banyak yang terbuang sia-sia.
2.      Kebutuhan akses belajar (accese to learning)
Setiap kegiatan pembelajaran memiliki aturan main tersendiri yang harus diikuti oleh para pebelajar dan pembelajar. Jadi fungsi pembelajar adalah memastikan bahwa para pebelajar telah memahami bagaimana cara berpartisipasi selama proses pembelajaran agar memiliki akses belajar yang optimal.
3.      Kemampuan mengelola untuk mengelola diri (management for self-management)
Alasan ketiga diperlukan pengelolaan kelas adalah pentingnya kemampuan manajemen diri pebelajar. Membelajarkan si pebelajar untuk mampu melakukan pengelolaan diri memang membutuhkan waktu lebih lama, namun dengan upaya demikian merupakan sebuah investasi yang luar biasa besar dan bermanfaat bagi si pebelajar sendiri untuk saat ini dan tentunya untuk masa depannya.



[1] Imam Azhar,Pengelolaan kelas dari teoritis ke praktis, Yogyakarta : INSYIRA,2013.h.27
[2] Ibid h.27
[3] Syaiful Bahri Djamarah, dkk, Strategi Belajar Mengajar I, Jakarta :Rineka Cipta, 2002, h. 208

[4] Ibid,h.206
[5] Ibid,  hlm. 239.

[6] Ibid,h.240
[7] Imam Azhar,Pengelolaan kelas dari teoritis ke praktis, Yogyakarta : INSYIRA,2013.h.21

[8] Ibid,h.21-22

Pendekatan Dalam Pengelolaan Kelas Dan Perwujudan Pengelolaan Kelas


Pendekatan Dalam Pengelolaan Kelas Dan Perwujudan Pengelolaan Kelas
A.            Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas
   Dari berbagai sumber yang ada, terdapat berbagai pendekatan pengelolaan kelas untuk menghadapi masalah-masalah yang timbul dalam kelas. Pendekatan-pendekatan ini, sebagian besar masih bergaya behavioristik dan militeristik.
Pendekatan tersebut adalah :
1.        Pendekatan Otoriter
2.        Pendekatan Permisif
3.        Pendekatan Pengubahan Perilaku
4.        Pendekatan Sosio-Emosional
5.        Pendekatan Proses Kelompok
Berikut ini penjelasan dari kelima pendekatan tersebut:
1.      Pendekatan Otoriter memandang pengelolaan kelas sebagai suatu proses pengontrolan tingkah laku anak atau siwa dan menganggap guru sebagai petugas yang harus menegakkan dan memelihara disiplin didalam kelas.
       Penekanan dalam pendekatan ini adalah pemeliharaan tata tertib dan menjaga atau mengawasi peraturan-peraturan dalam kelas agar dipatauhi oleh siswa. Pengontrolan pematuhan akan tata tertib itu dilakukan melalui penggunaan disiplin. Setiap siswa harus mematuhi dan mengikuti peraturan-peraturan kelas yang telah ditetapkan, baik oleh sekolah maupun oleh kelas.
       Jadi dapat disimpulkan bahwa Pendekatan Otoriter mendefenisikan pengelolan kelas ”seperangkat kegiatan guru untuk menegakkan dan memelihara peraturan-peraturan melalui disiplin yang ketat didalam kelas”.[1] 
Bila timbul masalah-masalah yang merusak ketertiban atau kedisiplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan: (a) perintah dan larangan, (b) penekanan dan penguasaan, dan (c) penghukuman dan pengancaman. Berikut ini penjelasannya.
a.      Perintah dan Larangan ,Pendekatan ini tampak mudah, namun kenyataan kurang mantap dalam pelaksanaan. Baik perintah maupun larangan dapat diterapkan atas dasar generalisasi masalah-masalah pengelolaan kelas tertentu.
      Kesulitan lain bahwa pendekatan perintah dan larangan itu bersifat “resep”, karena kalau resep yang berupa perintah atau larangan itu gagal maka pengajar sulit untuk menghadapi masalah yang dihadapi. Sehingga dengan pendekatan perintah dan larangan ini tidak membuka peluang bagi tindakan yang luwes dan kreatif. [2]
b.      Penekanan dan Penguasaan
Pendekatan penekanan dan penguasaan ini banyak mernentingkan diri pengajar sendiri seirama dengan pendekatan pertama, pengajar banyak memerintah, mengomel dan memarahi. Seiring pula dalam melakukan pendekatan dengan memakai pengaruh orang-orang yang berkuasa (misalnya pimpinan sekolah, orang tua). Melakukan tindakan kekerasan sebagai pelaksanaan penekanan, menyatakan ketidaksetujuan dengan kata-kata, tindakan atau pandangan menunjukkan sikap penguasaan.
Semua pendekatan demikian bersifat otoriter atau berkuasa atas diri orang lain (pebelajar). Bila dalam menghadapi masalah pengelolaan kelas, pebelajar menggunakan pendekatan penguasaan dan penekanan ini, maka akan mengakibatkan pembelajar terdiam, tertib karena takut dan tertekan hatinya. Bagi pembelajar pendekatan penguasaan dan penekanan ini berarti memaksakan kehendak bagi orang lain. Sehingga tahap toleransinya kurang terbina. Pendekatan semacam ini kurang tepat, kurang toleransi dan kurang bijaksana.[3]
c.       Hukuman dan Pengancaman
Pendekatan penghukuman muncul dalam berbagai bentuk tingkah laku antara lain penghukuman dengan kekerasan, dengan larangan bahkan pengusiran. menghardik atau menghentak dengan kata-kata yang kasar, mencemooh menertawakan, atau menghukum seseorang di depan pembelajar, memaksa pembelajar untuk meminta maaf. Memaksa dengan tuntutan tertentu, atau bahkan dengan ancaman-ancaman. Pendekatan semacam ini tidak dibenarkan karena kurang manusiawi. Setiap pebelajar kurang mendapatkan penghargaan sebagai individu yang mempunyai harga diri; kurang termotivasi, kurang nyaman dalam aspek psikologis. Pendekatan penghukuman dan pengancaman ini termasuk penanganan yang kurang tepat dan bersifat otoriter.[4]
2.      Pendekatan Permisif
       Pendekatan Permisif adalah siswa harus diberi kebebasan untuk berbuat apa saja yang mereka kehendaki dalam proses belajar mengajar.[5]
       Pendekatan yang permisif dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan pembelajar yang memaksimalkan kebebasan pebelajar untuk melakukan sesuatu. Sehingga bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat perkembangan pebelajar. Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala inisiatif dan tindakan pada diri pebelajar.[6]
       Jadi pendekatan ini mendefenisikan pengelolaan kelas sebagai seperangkat kegiatan guru untuk membantu siswa memaksimalkan kebebasan mereka.
3.      Pendekatan Behavior Modification
       Pendekatan ini memandang bahwa semua tingakah laku, yang ”baik” maupun yang ”kurang baik” merupakan hasil proses belajar dan ada sejumlah kecil proses psikologi yang fundamental yang dapat digunakan untuk menjelaskan terjadinya proses belajar yang dimaksud. Adapun proses psikologi yang dimaksud adalah:
a.       Penguatan positif (positive reiforcement).
b.      Penguatan nagatif (negative reiforcement).
c.       Hukuman
d.      Penghapusan.[7]
4.      Pendekatan Socio Emotional Climate
       Pendekatan ini memandang pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim atau suasana sosio-emosional yang positif didalam kelas. Menurut pendekatan ini, belajar dapat dimaksimalkan apabila berlansung di suasana atau iklim yang positif, yang pada dasarnya bersumber dari hubungan-hubungan antar pribadi, baik hubungan guru dengan siswa maupun hubungan sesama siswa.
       Jadi pendekatan ini mendefenisikan pengelolaan kelas sebagai seperangkat kegiatan untuk mengembangkan hubungan-hubungan antar pribadi yang baik dan mengembangkan suasana yang menunjang terciptanya sosio-emosional yang positif.[8]
       Dengan pendekatan iklim sosio emosional pembelajar dipandang sebagai “keseluruhan pribadi yang sedang berkembang”, bukan hanya sebagai seorang yang mempelajari pelajaran tertentu. Asumsi dasarnya adalah: Kegiatan pembelajaran di sekolah berlangsung dalam suatu kelompok, dan kelas adalah suatu sistem sosial yang memiliki ciri-ciri seperti sistem sosial lain.[9]
5.      Pendekatan Proses Kelompok
Penggunaan pendekatan proses kelompok ini menekankan pentingnya ciri-ciri kelompok yang sehat yang terdapat dalam kelas yang didukung adanya saling berhubungan antar pembelajar dalam kelompok di kelas itu. Pendekatan inilah yang identik dengan pendekatan kolaboratif (collaborative learning) dalam istilah Jhonson & Jhonson (2007). Peranan pembelajar diutamakan pada upaya mengembangkan dan mempertahankan keeratan hubungan antar pebelajar, semangat produktivitas, dan orientasi pada tujuan kelompok bukan tujuan pribadi. [10]
Pendekatan ini berpendapat bahwa kelas sebagai suatu sistem sosial yang mengutamakan proses-proses kelompok. Situasi dan tingkah laku kelompok kelas dipandang sebagai suatu yang mempunyai pengaruh besar terhadap jalannya pelajaran, walaupun belajar itu sendiri dipandang sebagai proses individual.
Pandangan ini mendefinisikan pengelolaan kelas sebagai seperangkat kegiatan yang digunakan guru untuk memantapkan dan memelihara suatau organisai kelas yang efektif. Peran utama guru adalah menciptakan dan memelihara keakraban, produktifitas dan penyelesaian tugas dari kelompok-kelompok kelas.[11]






[1] Amir Achsin, Pengelolaan Kelas dan Interaksi Belajar Mengajar, (Ujung Pandang Press, 1999) h. 8-10
[2] Imam Azhar, Pengelolaan kelas dari teoritis ke praktis,Yogyakarta: INSYIRA,2013.h,47-48
[3] Ibid.h.49
[4] Ibid.h.50
[5] Amir Achsin, Pengelolaan Kelas dan Interaksi Belajar Mengajar, (Ujung Pandang Press, 1999) h. 8-10
[6] Imam Azhar, Pengelolaan kelas dari teoritis ke praktis,Yogyakarta: INSYIRA,2013.h,47-48
[7] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pembelajaran, ( Jakarta : Rineka Cipta, 2004 ) h. 140
[8] Amir Achsin,op cit.h.13
[9] Imam Azhar, h.55
[10] Ibid, h.57
[11] Amir Achsin, h.14-15