Sabtu, 31 Mei 2014

Materi Pengelolaan Kelas


Hakekat Pengelolaan Kelas Dan Problem-Problem Dalam Pengelolaan Kelas
A.    Hakekat Pengelolaan Kelas
            Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas. Pengelolaan itu sendiri asal katanya adalah ”kelola”, ditambah awalan “pe” dan akhiran “an”. Istilah lain dari kata pengelolaan adalah “manajemen”. Manajemen adalah kata yang aslinya dari bahasa Inggris, yaitu “management”, yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan.[1]
             Pengertian pengelolaan atau manajemen pada umumnya yaitu kegiatan-kegiatan meliputi perencanaa, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan, dan penilaian.[2]
            Sedangkan definisi kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pelembelajaran dari pembelajar (Hamalik, 2007). Sementara Ahmad (1995) mengatakan kelas ialah ruangan belajar atau rombongan belajar.[3]
            Jadi secara etimologi, pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai upaya merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, mengkoordinasi dan mengontril kelompok belajar yang dilakukan oleh pembelajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
            Sedangkan secara terminology seperti yang diungkapkan oleh Wilford (James M. Cooper, 1995) yang mengemukakan bahwa pengelolaan kelas merupakan seperangkat perilaku yang kompleks dimana pembelajaran menggunakan untuk menata dan memelihara kondisi kelas yang akan memampukan para pembelajar untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efisien.[4]
            Sedangkan Woolfolk (2004) memberikan definisi pengelolaan kelas adalah untuk memelihara lingkungan pembelajaran yang positif, dan produktif.
            Ahmad (1995) menyatakan pengelolaan kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengjar yang efektif dan menyenagkan serta dapat memotivasi pebelajar untuk belajar dengan baik sesuai kemampuan.
            Sedangkan menurut Pidarta (2000) pengelolaan kelas adalah proses seleksi dan penggunaan alat-alat yang tepat terhadap problem dan situasi kelas.
            Sudirman (dalam Djamarah 2006) pengelolaan kelas merupakan upaya dalam mendayagunakan potensi kelas.[5]
            Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas (classroom management) adalah serangkaian tindakan yang dilakukan pembelajar dalam upaya menciptakan kondisi lingkungan pembelajaran yang positif dan produktif agar proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan tujuannya. Dengan ungkapan lain, pengelolaan kelas adalah upaya memberdayakan potensi kelas melalui seperangkat kertrampilan pembelajar untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, positif, dan produktif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran untuk mengoptimalisasi proses pembelajaran sehingga dapat diperoleh hasil yang memuaskan.
            Bertolak dari definisi tersebut, pada hakekatnya pengelolaan kelas dilakukan untuk mendukung terjadimya proses pembelajaran yang lebih berkualitas. Berikut ini beberapa hakekat pengelolaan kelas :
1.    Pengelolaan kelas adalah serangkaian tindakan pembelajar yang ditunjukkan untuk mendorong munculnya tingkah laku yang diharapkan dan menghilangkan tingkah laku yang baik dan iklim sosio-emosional yang positif, serta menciptakan dan memelihara organisasi kelas yang produktif dan efektif.
2.    Tujuan pengelolaan kelas adalah menciptkan dan memelihara kondisis yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif. Tujuan pembelajaran adalah membantu pebelajar mencapai tujuan pembelajaran,
3.    Pengelolaan kelas merupakan aspek penting dalam proses pembelajaran. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat bagi terciptanya proses pembelajaran yang efektif.[6]
B.     Tujuan Pengelolaan kelas
            Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan. Secara umum pengelolaan kelas adalah penyedian fasilitas bagi bermacam macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dalam intelektual dalam kelas. Fasilitas yang demikian itu memungkinkan siwa belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa. (Sudirman N, 1991, 311) Suharsimi Arikunto (1988 : 68) berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.[7]
            Berbicara mengenai tujuan pengelolaan kelas, Ahmad (1995) bahwa mengatakan tujuan pengelolaan kelas adalah sebagai berikut :
1.      Mewujutkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan pebelajar untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
2.      Menghilanhkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar.
3.      Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan pebelajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual pebelajar dalam kelas.
4.      Membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sufat-sifat individunya.[8]
C.     Problem – problem dalam pengelolaan kelas
            Pengelolaan kelas adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan belajar dengan baik. Dalam pengelolaan kelas dapat terjadi masalah bersumber dari kondisi tempat belajar dan pelajar yang terlibat dalam belajar Kondisi tempat belajar misalnya bisa berupa ruang kotor, papan tulis rusak, meja kursi rusak, dan sebagainya dapat mengganggu belajar.[9]
            Keaneka macam masalah perilaku siswa itu menimbulkan beberapa masalah pengelolaan kelas. Menurut made pidarta masalah-masalah pengelolaan kelas yang berhubungan dengan perilaku siswa adalah:
1.    Kurang kesatuan, dengan adanya kelompok-kelompok, klik-klik, dan pertentangan jenis kelamin.
2.    Tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok, misalnya ribut, bercakap-cakap, bergi kesana-kemari, dan sebagainya 
3.    Reaksi negatif terhadap anggota kelompok, misalnya ribut, bermusuhan, mengucilkan, merendahkan kelompok bodoh dan sebagainya 
4.    Kelas mentolerasi kekeliruan-kekeliruan temannya, ialah menerima dan mendorong perilaku siswa yang keliru. 
5.     Mudah mereaksi negatif atau terganggu misalnya didatangi monitor, tamu-tamu, iklim yang berubah dan sebagainya 
6.     Moral rendah, permusuhan dan agresif misalnya dalam lembaga dengan alat-alat belajar kurang, kekurangan uang, dan sebagainya 
7.     Tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang berubah, seperti tugas-tugas tambahan, anggota kelas yang baru, situasi baru dan sebagainya.[10]









[1] Syaiful Bahri Djamarah, dkk, Strategi Belajar Mengajar I, Jakarta :Rineka Cipta, 2002, h. 196
[2] Imam Azhar, Pengelolaan kelas dari teoritis ke praktis.(Yogyakarta : INSYIRA).2013,hal 15
[3] Ibid, h.15
[4] Ibid, h. 16
[5] Ibid,h.19
[6] Ibid, h. 20.
[7] Syaiful Bahri Djamarah, dkk, Strategi Belajar Mengajar I, Jakarta :Rineka Cipta, 2002, h. 199-200
[8]  Imam Azhar, Pengelolaan kelas dari teoritis ke praktis.(Yogyakarta : INSYIRA).2013,hal 15
[10] SyaifulBahriDjamarah, dkk, Strategi Belajar Mengajar I, Jakarta : Rineka Cipta, 2002, h. 218

Tidak ada komentar:

Posting Komentar