Sabtu, 31 Mei 2014

Pendekatan Dalam Pengelolaan Kelas Dan Perwujudan Pengelolaan Kelas


Pendekatan Dalam Pengelolaan Kelas Dan Perwujudan Pengelolaan Kelas
A.            Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas
   Dari berbagai sumber yang ada, terdapat berbagai pendekatan pengelolaan kelas untuk menghadapi masalah-masalah yang timbul dalam kelas. Pendekatan-pendekatan ini, sebagian besar masih bergaya behavioristik dan militeristik.
Pendekatan tersebut adalah :
1.        Pendekatan Otoriter
2.        Pendekatan Permisif
3.        Pendekatan Pengubahan Perilaku
4.        Pendekatan Sosio-Emosional
5.        Pendekatan Proses Kelompok
Berikut ini penjelasan dari kelima pendekatan tersebut:
1.      Pendekatan Otoriter memandang pengelolaan kelas sebagai suatu proses pengontrolan tingkah laku anak atau siwa dan menganggap guru sebagai petugas yang harus menegakkan dan memelihara disiplin didalam kelas.
       Penekanan dalam pendekatan ini adalah pemeliharaan tata tertib dan menjaga atau mengawasi peraturan-peraturan dalam kelas agar dipatauhi oleh siswa. Pengontrolan pematuhan akan tata tertib itu dilakukan melalui penggunaan disiplin. Setiap siswa harus mematuhi dan mengikuti peraturan-peraturan kelas yang telah ditetapkan, baik oleh sekolah maupun oleh kelas.
       Jadi dapat disimpulkan bahwa Pendekatan Otoriter mendefenisikan pengelolan kelas ”seperangkat kegiatan guru untuk menegakkan dan memelihara peraturan-peraturan melalui disiplin yang ketat didalam kelas”.[1] 
Bila timbul masalah-masalah yang merusak ketertiban atau kedisiplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan: (a) perintah dan larangan, (b) penekanan dan penguasaan, dan (c) penghukuman dan pengancaman. Berikut ini penjelasannya.
a.      Perintah dan Larangan ,Pendekatan ini tampak mudah, namun kenyataan kurang mantap dalam pelaksanaan. Baik perintah maupun larangan dapat diterapkan atas dasar generalisasi masalah-masalah pengelolaan kelas tertentu.
      Kesulitan lain bahwa pendekatan perintah dan larangan itu bersifat “resep”, karena kalau resep yang berupa perintah atau larangan itu gagal maka pengajar sulit untuk menghadapi masalah yang dihadapi. Sehingga dengan pendekatan perintah dan larangan ini tidak membuka peluang bagi tindakan yang luwes dan kreatif. [2]
b.      Penekanan dan Penguasaan
Pendekatan penekanan dan penguasaan ini banyak mernentingkan diri pengajar sendiri seirama dengan pendekatan pertama, pengajar banyak memerintah, mengomel dan memarahi. Seiring pula dalam melakukan pendekatan dengan memakai pengaruh orang-orang yang berkuasa (misalnya pimpinan sekolah, orang tua). Melakukan tindakan kekerasan sebagai pelaksanaan penekanan, menyatakan ketidaksetujuan dengan kata-kata, tindakan atau pandangan menunjukkan sikap penguasaan.
Semua pendekatan demikian bersifat otoriter atau berkuasa atas diri orang lain (pebelajar). Bila dalam menghadapi masalah pengelolaan kelas, pebelajar menggunakan pendekatan penguasaan dan penekanan ini, maka akan mengakibatkan pembelajar terdiam, tertib karena takut dan tertekan hatinya. Bagi pembelajar pendekatan penguasaan dan penekanan ini berarti memaksakan kehendak bagi orang lain. Sehingga tahap toleransinya kurang terbina. Pendekatan semacam ini kurang tepat, kurang toleransi dan kurang bijaksana.[3]
c.       Hukuman dan Pengancaman
Pendekatan penghukuman muncul dalam berbagai bentuk tingkah laku antara lain penghukuman dengan kekerasan, dengan larangan bahkan pengusiran. menghardik atau menghentak dengan kata-kata yang kasar, mencemooh menertawakan, atau menghukum seseorang di depan pembelajar, memaksa pembelajar untuk meminta maaf. Memaksa dengan tuntutan tertentu, atau bahkan dengan ancaman-ancaman. Pendekatan semacam ini tidak dibenarkan karena kurang manusiawi. Setiap pebelajar kurang mendapatkan penghargaan sebagai individu yang mempunyai harga diri; kurang termotivasi, kurang nyaman dalam aspek psikologis. Pendekatan penghukuman dan pengancaman ini termasuk penanganan yang kurang tepat dan bersifat otoriter.[4]
2.      Pendekatan Permisif
       Pendekatan Permisif adalah siswa harus diberi kebebasan untuk berbuat apa saja yang mereka kehendaki dalam proses belajar mengajar.[5]
       Pendekatan yang permisif dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan pembelajar yang memaksimalkan kebebasan pebelajar untuk melakukan sesuatu. Sehingga bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat perkembangan pebelajar. Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala inisiatif dan tindakan pada diri pebelajar.[6]
       Jadi pendekatan ini mendefenisikan pengelolaan kelas sebagai seperangkat kegiatan guru untuk membantu siswa memaksimalkan kebebasan mereka.
3.      Pendekatan Behavior Modification
       Pendekatan ini memandang bahwa semua tingakah laku, yang ”baik” maupun yang ”kurang baik” merupakan hasil proses belajar dan ada sejumlah kecil proses psikologi yang fundamental yang dapat digunakan untuk menjelaskan terjadinya proses belajar yang dimaksud. Adapun proses psikologi yang dimaksud adalah:
a.       Penguatan positif (positive reiforcement).
b.      Penguatan nagatif (negative reiforcement).
c.       Hukuman
d.      Penghapusan.[7]
4.      Pendekatan Socio Emotional Climate
       Pendekatan ini memandang pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim atau suasana sosio-emosional yang positif didalam kelas. Menurut pendekatan ini, belajar dapat dimaksimalkan apabila berlansung di suasana atau iklim yang positif, yang pada dasarnya bersumber dari hubungan-hubungan antar pribadi, baik hubungan guru dengan siswa maupun hubungan sesama siswa.
       Jadi pendekatan ini mendefenisikan pengelolaan kelas sebagai seperangkat kegiatan untuk mengembangkan hubungan-hubungan antar pribadi yang baik dan mengembangkan suasana yang menunjang terciptanya sosio-emosional yang positif.[8]
       Dengan pendekatan iklim sosio emosional pembelajar dipandang sebagai “keseluruhan pribadi yang sedang berkembang”, bukan hanya sebagai seorang yang mempelajari pelajaran tertentu. Asumsi dasarnya adalah: Kegiatan pembelajaran di sekolah berlangsung dalam suatu kelompok, dan kelas adalah suatu sistem sosial yang memiliki ciri-ciri seperti sistem sosial lain.[9]
5.      Pendekatan Proses Kelompok
Penggunaan pendekatan proses kelompok ini menekankan pentingnya ciri-ciri kelompok yang sehat yang terdapat dalam kelas yang didukung adanya saling berhubungan antar pembelajar dalam kelompok di kelas itu. Pendekatan inilah yang identik dengan pendekatan kolaboratif (collaborative learning) dalam istilah Jhonson & Jhonson (2007). Peranan pembelajar diutamakan pada upaya mengembangkan dan mempertahankan keeratan hubungan antar pebelajar, semangat produktivitas, dan orientasi pada tujuan kelompok bukan tujuan pribadi. [10]
Pendekatan ini berpendapat bahwa kelas sebagai suatu sistem sosial yang mengutamakan proses-proses kelompok. Situasi dan tingkah laku kelompok kelas dipandang sebagai suatu yang mempunyai pengaruh besar terhadap jalannya pelajaran, walaupun belajar itu sendiri dipandang sebagai proses individual.
Pandangan ini mendefinisikan pengelolaan kelas sebagai seperangkat kegiatan yang digunakan guru untuk memantapkan dan memelihara suatau organisai kelas yang efektif. Peran utama guru adalah menciptakan dan memelihara keakraban, produktifitas dan penyelesaian tugas dari kelompok-kelompok kelas.[11]






[1] Amir Achsin, Pengelolaan Kelas dan Interaksi Belajar Mengajar, (Ujung Pandang Press, 1999) h. 8-10
[2] Imam Azhar, Pengelolaan kelas dari teoritis ke praktis,Yogyakarta: INSYIRA,2013.h,47-48
[3] Ibid.h.49
[4] Ibid.h.50
[5] Amir Achsin, Pengelolaan Kelas dan Interaksi Belajar Mengajar, (Ujung Pandang Press, 1999) h. 8-10
[6] Imam Azhar, Pengelolaan kelas dari teoritis ke praktis,Yogyakarta: INSYIRA,2013.h,47-48
[7] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pembelajaran, ( Jakarta : Rineka Cipta, 2004 ) h. 140
[8] Amir Achsin,op cit.h.13
[9] Imam Azhar, h.55
[10] Ibid, h.57
[11] Amir Achsin, h.14-15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar