Peran Dan
Fungsi Guru Dalam Kelas
A. Pengertian Fungsi atau Peran Guru
Seorang guru mempunyai
implikasi terhadap peran dan fungsi yang menjadi tanggung jawabnya. Guru
memiliki satu kesatuan peran dan fungsi yang tidak terpisahkan, antara
kemampuan mendidik, membimbing, mengajar dan melatih. Keempat kemampuan
tersebut merupakan kemampuan integratif antara yang satu dengan yang lain tidak
dapat dipisahkan.[1]
Prey Katz
menggambarkan peran guru sebagai komunikator, sahabat yang dapat memberikan
nasehat- nasehat, motivator, sebgai pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing
dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai- nilai, orang yang
menguasai bahan yang diajarkan.[2]
Ngalim Purwanto (1980:169)
menegaskan fungsi atau peran guru adalah terciptanya serangkaian tingkah laku
yang saling berkaitan yang dilakukan dalam situasi tertentu serta berhubungan
dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa yang menjadi
tujuannya.
Dari beberapa definisi diatas dapat
diambil kesimpulan bahwa guru bukan hanya sekedar pemberi ilmu pengetahuan
kepada murid- muridnyadidepan kelas tetapi merupakan seorang tenaga
professional yang dapat menjadikan murid mampu merencanakan menganalisa dan
mengumpulkan masalah yang dihadapi. Guru juga harus mampu melihat serta
memperhatikan apakah para siswa benar- benar berminat terhadap apa yang telah
diberikan/digunakannya dalam menyampaikan pelajaran. Seorang guru juga harus
bias melihat pakah minat itu benar- benar ada pada siswa saat mengikuti
pelajaran yang disampaikannya untuk berhasilnya semua itu tentu sangat terkait
dengan merode pembelajaran yang diterapkan oleh seorang guru dalam menyampaikan
pelajaran.
B. Fungsi atau Peran Guru di dalam Kelas
Ketika ilmu pengetahuan masih terbatas, ketika penemuan hasil-hasil
teknologi belum berkembang hebat seperti sekarang ini, maka fungsi utama guru
di sekolah adalah menyampaikan ilmu pengetahuan sebagai warisan kebudayaan masa
lalu yang dianggap berguna sehingga harus dilestarikan.[3]
Program kelas tidak
akan berarti bilamana tidak diwujudkan menjadi kegiatan. Untuk itu peranan guru
sangat menentukan karena kedudukannya sebagai pemimpin pendidikan di antara
murid-murid suatu kelas. Secara etimologis atau dalam arti sempit guru yang
berkewajiban mewujudkan program kelas adalah orang yang kerjanya mengajar atau
memberikan pelajaran di sekolah atau di kelas. Secara lebih luas guru berarti
orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung
jawab membantu anak-anak mencapai kedewasaan masing-masing. Guru dalam
pengertian terakhir bukanlah sekedar orang yang berdiri di depan kelas untuk
menyampaikan materi pengetahuan tertentu, akan tetapi adalah anggota masyarakat
yang harus ikut aktif dan berjiwa bebas serta kreatif dalam mengarahkan perkembangan
anak didiknya untuk menjadi anggota masyarakat sebagai orang dewasa.[4]Diantaranya
fungsi guru dalam kelas adalah:
1. Fungsi Instruksional
Sebagai pengajar (instruksional) yang berfungsi merencanakan
program pengajaran dan melaksanakan program yang telah disusun, dan penilaian
setelah program itu dilaksanakan.[5]
Guru diharapkan memiliki pengetahuan yang luas tentang disiplin
ilmu yang harus diampu untuk ditransfer kepada siswa. Dalam hal ini guru harus
menguasai materi yang akan diajarkan, menguasai penggunaan strategi dan metode
mengajar yang akan digunakan untuk menyampaikan bahan ajar, dan menentukan alat
evaluasi pendidikan yang akan digunakan untuk menilai hasil belajar siswa,
aspek-aspek manajemen kelas, dan dasar-dasar kependidikan.[6]
2. Fungsi Educational
Sebagai seorang
pendidik (edukator), guru berfungsi mengarahkan peserta didik pada tingkat
kedewasaan yang berkepribadian insan kamil, seiring dengan tujuan Allah
menciptakan manusia.[7]
Dalam konteks inilah maka sikap dan perilaku guru menjadi
semacam bahan ajar secara tidak langsung yang dikenal dengan hidden curriculum.
Sikap dan perilaku guru menjadi bahan ajar yang secara langsung dan tidak
langsung akan ditiru dan diikuti oleh para siswa.[8]
Sehubung dengan peranannya sebagai pendidik, guru harus
menguasai ilmu antara lain mempunyai pengetahuan yang luas, menguasai bahan
pelajaran serta ilmu-ilmu yang bertalian dengan mata pelajaran/bidang study
yang diajarkan, menguasai teori dan praktek mendidik, teori kurikulum metode
pengajaran, teknologi pendidikan teori evaluasi psikologi belajar dan
sebagainya.[9]
3. Fungsi Managerial
Sebagai pengelola kelas, guru hendaknya dapat menegelola kelas
dengan baik karena kelas adalah tempat berhimpun semua anak didik dan guru
dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru. Kelas yang dikelola dengan
baik akan menunjang jalannya interaksi edukatif. Jadi maksud dari pengelolaan
kelas adalah agar anak didik betah tinggal di kelas dengan motivasi yang tinggi
untuk senantiasa belajar di dalamnya.[10]
Tujuan umum pengelolaan kelas ialah menyediakan dan menggunakan
fasilitas kelas untuk bermacam-macam kegiatan belajar dan mengajar agar
mencapai hasil yang baik. Sedangkan tujuan khususnya adalah mengembangkan
kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, meyediakan kondisi-kondisi
yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar serta membantu siswa untuk
memperoleh hasil yang diharapkan.
Sebagai manajer guru bertanggung jawab memelihara lingkungan
fisik kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau
membimbing proses-proses intelektual dan sosial di dalam kelasnya. Dengan
demikian guru tidak hanya memungkinkan siswa belajar, tetapi juga mengembangkan
kebiasaan bekerja dan belajar secara efektif dikalanagn siswa.[11]
Dalam melaksanakan pengelolaan pembelajaran ada dua macam
kegiatan yang harus dilakukan, yaitu mengelola sumber belajar dan melaksanakan
peran sebagai sumber belajar itu sendiri. Sebagai manajer, guru memiliki empat
fungsi umum, yaitu:
a.
Merencanakan tujuan belajar
b.
Mengorganisasikan berbagai sumber belajar untuk mewujudkan tujuan belajar
c.
Memimpin, yang meliputi memotivasi, mendorong dan menstimulasi siswa
d.
Mengawasi segala sesuatu, apakah sudah berfungsi sebagaimana mestinya atau
belum dalam rangka pencapaian tujuan.[12]
Fungsi lain peran guru
dalam kelas sangatlah banyak diantaranya:
1. Korektor
Sebagai korektor, guru harus bisa membedakan mana
nilai yang baik dan mana yang buruk. Karena latar belakang kehidupan anak didik
yang berbeda. Semua nilai yang baik harus guru pertahankan dan semua nilai
buruk harus disingkirkan dari jiwa anak didik. Bila guru membiarkannya, berarti
guru telah mengabaikan peranannya sebagai korektor, yang menilai dan mengoreksi
semua sikap, tingkah laku, dan perbuatan anak didik.[13]
2. Inspirator
Sebagai inspirator, guru harus dapat memberikan ilham
yang baik bagi kemajuan belajar anak didik. Persoalan belajar adalah masalah
utama anak didik. Guru harus dapat memberikan petunjuk (ilham) bagaimana cara
belajar yang baik. Petunjuk itu tidak mesti harus bertolak dari sejumlah
teori-teori belajar yang baik. Yang penting bukan teorinya, tapi bagaimana
melepaskan masalah yang dihadapi oleh anak didik.
3. Informator
Sebagai informator, guru harus dapat memberikan
informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain sejumlah bahan
pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum.
Informasi yang baik dan efektif diperlukan dari guru. Kesalahan informasi
adalah racun bagi anak didik. Untuk menjadi informator yang baik dan efektif,
penguasaan bahasalah sebagai kuncinya, ditopang dengan penguasaan bahan yang
akan diberikan anak didik. Informator yang baik adalah guru yang mengerti
kebutuhan anak didik dan mengabdi untuk anak didik.
4. Organisator
Sebagai organisator, adalah sisi lain dari peranan
yang diperlukan dari guru. Dalam bidang ini guru memiliki kegiatan pengelolaan
kegiatan akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik,
dan sebagainya. Semuanya diorganisasikan, sehingga dapat mencapai efektivitas
dan efisiensi dalam belajar pada diri anak didik.
5. Motivator
Sebagai motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak
didik agar bergairah dan active belajar. Dalam upaya memberikan motivasi, guru
dapat menganalisis motif-motif yang melatarbelakangi anak didik malas belajar
dan menurun prestasinya di sekolah. Motivasi dilakukan dengan cara
memperhatikan kebutuhan anak didik.
6. Inisiator
Guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan
dalam pendidikan pengajaran.
7. Fasilitator
Sebagai fasilitator, guru hendaknya mampu mengusahakan
sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses
belajar mengajar, baik yang berupa nara sumber, buku teks, majalah, ataupun
surat kabar.
8. Innovator
Yaitu guru menterjemahkan pengalamannya yang telah
lalu kedalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik.
9. Mediator
Sebagai mediator guru haruas memiliki pengetahuan dan
pemahaman yang yang cukup tentang media pendidikan dalam bebagai bentuk dan
jenisnya, baik media non materialmaupun materil. Media berfungsi sebagai alat komunikasi
guna mengaktifkan proses interaksi edukatif.
10. Evaluator
Sebagai evaluator, guru dituntut untuk menjadi seorang
evaluator yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek
kepribadian anak didik dan aspek penilaian jawaban anak didik ketika tes.[14]
[2] ]http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2154729-pengertian-peran-guru/#ixzz1uEomwxfv.
Diakses tanggal 27 Mei 2014
[3] Wina Sanjaya. Strategi Pembelajaran. (Jakarta:
Kencana, 2008). Cet.ke-4. Hal.21
[4] Hadari Nawawi, Organisasi
Sekolah dan Pengelolaan Kelas, (Jakarta: CV Haji Masagung, 1981), hal 123.
[5]
Ramayulis, Ilmu
Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2008), hal 63.
[6]
Suparlan, Menjadi
Guru Efektif, hal 28.
[10] Syaiful Bahri D, Guru dan Anak
Didik Dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal 47.
[11]Moh.Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya,1995), hal 10.
[12] Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2006), hal 22
[13] Syaiful Bahri Djamarah. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi
Edukatif. (Jakarta: Rineka Cipta. 2000) hal.43.
[14] Syaiful Bahri
Djamarah. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. (Jakarta: Rineka Cipta.
2000) hal.43.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar